Perempuan yang menyayangimu  

Celoteh Herlina

Aku tak pernah mengerti dirimu,
Dan mungkin tak pernah benar-benar mencoba untuk melakukannya
Aku hanya seorang perempuan, yang menyayangimu

Aku hanya ingin jadi payung di hari hujanmu
Aku hanya ingin jadi selimut di malam badaimu
Aku tak lebih, hanya seorang perempuan yang menyayangimu

Aku ingin menarik senyum di wajahmu
Aku ingin menjadi geli diperutmu yang buat kau tertawa
Karena aku seorang perempuan yang menyayangimu

Aku ingin menjadi orang pertama yang kau lihat di pagi hari
Aku mau kau kecup selamat malam sebelum kau beranjak tidur
Sebab sebagai perempuan, aku menyayangimu

Aku mau kau lega, saat argumenku benar adanya
Aku mau kau cemberut waktu aku memberi saran konyol
Aku mau kau butuhkan untuk kuajari sesuatu
Aku pun ingin kau membimbingku melangkah jika ku butuh
Sebab aku perempuan yang sangat menyayangimu

Aku tak tahu bagaimana lagi menyatakannya
Sebab aku hanya perempuan yang menyayangimu
Dan aku bertanya-tanya, apakah kau juga
Hanyalah laki-laki yang menyayangiku

Miss You Oma  

Celoteh Herlina


Siapa menyangka

Pada kematian, yang begitu dingin
Cintamu masih begitu hangat, menghangatkan

And that’s painfull for me

I'm Fallin in Love  

Celoteh Herlina

Telaga biru di Halmahera, terlentang dengan pasrahnya
Kurungan pepohonan raksasa, puluhan meter menghijau
Dari kaki batang hingga pucuk juvenile, dipanjati tanaman rambat
Seperti mencium aroma surga, bahagia-bahagia tak terhingga
Berdentum-dentum pukulan jantungku, kayak dipasangi sub-woofer

Keren abis….., siapa yang bisa gak jatuh cinta pada alam seindah itu

Gamalama, menyembul
Kiematubo,Gamkunora, Maitara, Hiri memanggil-manggil
Kiebesi Makian, di kakinya para leluhur momoi bersemayam
Membaringkan sisa jasadnya pada ibu bumi

Debur ombak memukul-mukul dinding benteng kalamata
Bebatuan dan pasir halus sulamadaha seakan berbincang
dengan hiri yang bersahaja dihadapannya
Pasir putih sepanjang pesisir tidore mengundang bercengkrama

Tolire, yang misterius dan membawa cerita kelabu percintaan sedarah
Mahkota berambut di kedaton ternate, yang masih saja mistis
Menyimpan legenda asal usul moloku kie raha, negeri empat kerajaan

Teringat cerita papa tentang babi hutan, bawang raksasa, 3 hari di atas perahu
Melompat dari atas kapal, berenang di laut lepas, ladang yang luasnya bagai lautan
Asal-usul nama tempat, cerita masa lalu tentang rumah momoi

I’m falling in love !!!!!!

Bye, bye-bye.......  

Celoteh Herlina

entah kenapa, tawamu yang lepas itu bagiku sebuah pernyataan bahwa kau, juga aku, sudah baik-baik saja, no hard feeling anymore.......

seperti saat aku mencoba melupakan pangeran jeruk, dalam dua tahun yang penuh rasa bersalah, dan setelah dia bilang "don't worry be happy" sambil tertawa riang, dan itulah sudah...., aku tahu kalau dia, juga aku, baik-baik saja.

kini kau juga....., well adios amigo

kuharap suatu saat dapat jumpa lagi, entah kapan dan dimana, tapi pasti kita bisa jabat tangan erat, sambil senyum hangat, sahabatku.

waktu hujan bulan kemaren  

Celoteh Herlina

Dia datang bersama hujan pertama, tak ada yang istimewa.

Hanya pasrahku, dibalut dinginnya air dan angin yang mengantarkannya.

Beri kesempatan waktu mengukir alur. Seperti matahari yang setia berada di setiap pagi, menemani segala yang tumbuh dan mengucap selamat tinggal pada segala yang pergi.

Dan aku kehabisan kata untuk ini…, semua mengabur setelah sekian lama menutup mata.

Sekali lagi, beri kesempatan waktu mengukir alur.


Untaian kata itu dibuat awal musim hujan, beberapa bulan lalu, ketika dingin turun dengan begitu cantik. Sekarang aku mengerti tak di hujan juga kemarau, aku lebih mencintai diriku sendiri, terlalu mencintai diriku sendiri, hingga tak sisakan ruang untuk siapapun. Pernah aku membagi bahagia, bersama the living miracle, tapi kini dia sudah berlalu. Meninggalkan galau balau ku sendiri menatap limbung jalanan yang harus kutempuh. Aku justru merasa kuat ketika aku limbung, aku justru menemukan kemandirianku dalam kelemahanku yang membahana.


Hmm.., rasanya begitu nikmat, mencintai diri sendiri.


Segala hujan, segala kemarau, nyanyian-nyanyian cinta, rindu-rindu asmara, hanya

warna-warna yang sebentar lewat, bagiku semua tak boleh menetap tinggal. Aku benci menjadi setia, aku benci jika akhirnya hanya ada aku yang berdiri di simpang jalan itu sambil menangisi
seseorang, akulah yang akan pergi, akulah yang akan mengucapkan selamat tinggal, akulah yang

akan berlalu sambil ditangisi oleh seseorang, aku akan memunggunginya dan mengambil langkah jauh, agar tak kudengar tangisannya.


Hikss.., so far, i think it's me the one who had always has that cry



the pict from here

Love Suck!!!!!, mellow yellow again...  

Celoteh Herlina

Aku ingin menangis,
di tepian laut yang sunyi
di bawah langit malam yang temaram
ingin menjerit sejadinya
tentang segala luka rindu

pada sebuah wajah
yang telah sangat kukenal
hingga aku tak peduli betapa jeleknya dia
begitu sukanya, begitu rindunya
hingga harus kugigit lidahku
agar tak lancang meneriakkan namanya



aku hanya bisa membayangkan
berlari menembus segala pakem, melabrak semua larangan
mengahapus masa lalu hitam
lalu berdiri di hadapanmu
meminta tanganmu tuk kupercayakan hatiku

hanya membayangkan,
telah menderaikan begitu banyak air mata
sebuah mimpi yang tak pernah mungkin
mimpi sederhana yang seketika menjadi rumit
ketika aku terbangun dan melihat hitamku

i'm terribly in love with you
bertemu denganmu tak pernah kusesali
berpisah denganmu pun adalah suatu keharusan
it's just now, i'm desperately missing you
tapi bukankah kita gak akan kehilangan sesuatu yang gak kita miliki??????!!!!!.....

always and always
Love sucks!!!!!!!!!
damned mellow yellowww..!!!

Jika Engkau Laut  

Celoteh Herlina

Aku rindu laut,
Seperti sungai yang bermuara ke laut,
Seperti itu pula aku merindukan laut
Rasanya telah berabad aku tak bersua dengannya
Pantai, sering kukunjungi, tapi pantai adalah tepian
Daerah perbatasan, wilayah antara
Bukan laut yang semerbak misteri dan agung
Yang menyapu hati dengan segala aroma kesejukannya
Laut, aku merindukanmu
Layaknya sungai rindu muara.
Aku ingin hilang melebur
Hingga tak ada lagi air mata dan senyum
Cinta dan benci
Hanya ada laut, segala cinta, segala harap, segala tangis, segala nasib
Bermuara, pulang ke tujuan

Rinduku, laut..
Biar aku menjelma ikan-ikan kecil, plankton, rumput laut
Pasirmu, birumu, anginmu
Apapun…, asalkan denganmu
Asal menemukanmu.

Laut…
Segalaku inginkan engkau
Semua yang ada padaku rindukan dirimu

Torehan ini karena sesuatu yang berdiam di hati, keluar lewat laku, melompat dari ucap, tercermin dari pandangan. Namun sayang, dia terkadang kecil menjadi besar, semakin besar, lalu mengecil lagi, fluktuatif, bahkan kadang hilang. sesuatu hal langka yang bagiku sangatlah berharga karena sulit meperolehnya, lebih sulit lagi menjaganya.

Februari yang basah  

Celoteh Herlina

Februari yang basah,
Musim menggeliat, tak karuan menghantam
Padi mati muda,
Memendekkan jalur luka, mempercepat derita

Halaman istana becek,
Dan turis-turis batal bertandang.
Negara merugi, burung besi tak bisa terbang

Ibu kota, ibu desa, ibu negara
Semua berenang, kebanjiran.
Air keruh, coba basuh wajah bangsa ini
meluahkan apa-apa yang sembunyi
menunjukkan saluran yang mampet

naikkan Jakarta ke atas bahtera Nuh
jangan lupakan ngawi, ponorogo, mojokerto…
lalu berlayar lintasi februari
februari yang basah dan resah

februari yang basah oleh cinta
yang basah oleh hujan
juga basah oleh darah, benci dan dendam
di timur sana
kursi-kursi menjadi tuhan
seorang presiden ditembak, hakim dibom
kaca-kaca bertaburan, menusuk luka juga benci
lalu tumbuh subur
lebih subur dari kedelai yang kian melambung

februari yang penuh coklat dan permen,
manisku…, lupakan cinta
aku mau sekotak tempe berbentuk hati
jangan lupa
kuburkan mereka di makam pahlawan
agar kita ingat, dulu di negeri ini
banyak petani.

My awckward february
I love you.

The Singing Sagoo  

Celoteh Herlina

Sagu-sagu menari, tarian perpisahan....

Aku teringat papa ketika dengan lugasnya berkata, siapa bilang orang ambon makanan pokoknya sagu, sejak kecil papa makannya nasi, sagu hanya sebagai selingan atau makanan ringan.

Lalu di rimba-rimba Pulau Seram Pohon Sagu, Kakao, Pala, Cengkeh trying to survive. Yang menang yang paling tinggi nilai jualnya. Pala, cengkeh, kakao, berapa rotasi??? dan mereka pergi menyisakan tanah tua, yang lalu dipaksa lagi menumbuhkan minyak-minyak hijau.

Di atas kertas, data-data itu. Padi, kakao, pala, cengkeh. 1, 2, 3 hektar mereka adalah padi. Luar biasa, angka yang cukup langka kalau kita di Pulau Jawa. Lalu mereka makmur, pangan tercukupi, pendidikan layak, kehidupan sejahtera, sayang sekali itu semua tidak terjadi. Padi yang 3 ha itu, menggunakan sistem tabela. Ongkos produksi menjadi lebih besar, semakin merugi ketika pemerintah mengucurkan raskin. Harga gabah turun, petani menangis lagi, apa artinya 2-3 ha itu.

Di atas kertas, sudah tak ada lagi sagu. Pohon besar itu, yang begitu melekat dengan nama orang-orang Maluku, mungkin beberapa puluh tahun lagi akan tinggal sejarah. Sagu tumang, sagu lempeng, sagu gula, sagu kasbi, bagea, halua, semua makanan maluku that so much integrated with sagu, mulai menghilang. Food sustainability in molucas family especially in the village, no longer exist along with the goodbye step of sagu. One of my friend said that she had that time, where her grand ma has a special room for sagu in their house’s second floor, and that’s so much worthy for their food sustainable. Pohon sagu akan tumbuh selama puluhan tahun sebelum akhirnya ditebang dan diambil seluruh bagian isi batang pohonnya. Panen satu pohon sagu untuk satu keluarga dapat menjadi persediaan makanan untuk waktu yang cukup lama, tahunan mungkin. Sagu disimpan dalam, bentuk sagu tumang, yaitu pengemasan tradisional, sagu setelah dicuci dan berbentuk tepung kemudian dibungkus dalam anyaman daun sagu, dan dapat disimpan untuk jangka waktu yang lama.

And those research like the singing money, like tree of prosperty, with notes ofcourse, if you are not the object of research. It’s wet damned thing, unusefull tools as the government always do. It’s so amazing system, money comes easily when they wants to know what happened on the reality, but once they tryin to overcome the problem, money like hope for the rain in the sahara. So what it’s use to. Those research paper, reports, document, etc. just to fill the board of modern artistic building called government office, or just as the vain efforts so the officer has something to do as excuse to have their money, legally. No wonder many people are struggle to be in that chair, government officer. (me too, it’s so tempted)

In the middle of the singing sagoo. I heard another cries. A nobel institution, education institution. Dimana ikan-ikan besar memakan ikan kecil. Kaki-kaki menginjak kepala-kepala, dan seterusnya, berganti-ganti, saling menekan, kepuasan hanya barang langka berdebu yang ada di musium sepi tak berpengunjung. Lalu pendidikan jadi seperti penjajah, yang selalu meminta upeti tak masuk akal. Dan untuk sebuah status (yang gak penting gitu loh..) semua mulut-mulut bungkam, tangan-tangan terikat, meski hati panas, air mata meleleh, kepala bedenyut-denyut tak karuan, tapi upeti harus tetap terbayarkan, setan-setan semakin menari, dan ketundukan menjadi budaya manis yang semakin buncit. I hate them.., berjas putih seperti malaikat, tapi hatinya hitam menulari orang-orang, manusiakah mereka. Setan, iblis, anak-anak adam tak perlu lagi kalian goda, kami sudah lebih canggih, segala macam dosa selalu kami up date, varian-varian baru selalu hadir, tak perlu waktu lama, kami berlomba-lomba menjadi yang paling mutakhir. Bahkan untuk sebuah tempat suci dimana cahaya keimanan memulai langkahnya. Di tempat itu pulalah akan kami mulai memadamkannya. Pada bangku-bangku, papan tulis, segala macam diktat, huruf-huruf memudar menyesali, mengapa pengetahuan malah menutup hati manusia.

Di tengah lirih pendengaranku menahan semua marah yang melompat-lompat di antara cerita temanku, tentang lembaga setan itu. Sepasang kaki mungil yang cantik, melayang di tengah dingin udara. Duh ibu…., terhadap angin malam kaubiarkan melukainya, apakah juga tak akan kau jaga dia dari kejamnya dunia. Semoga hidupnya bahagia, menghargai budayanya dan terhindar dari segala bentuk penjajahan.

Sagu-sagu masih menari, dan aku pun akan memulakan langkahku, semoga aku bisa memberimu arti.

Aku Pembenci Segala  

Celoteh Herlina

aku Pembenci Segala
meniti jalan entah

hatiku hitam membusuk
tubuhku ditumbuhi dosa dan luka dendam

rambutku merah
mataku merah
hatiku marah
marahku merah

Aku pembenci segala, meniti jalan entah

Sangat merindu....  

Celoteh Herlina

Entah ada apa dua hari ini, tapi aku merasa sangat merindukannya. dia yang selalu coba kuhapus dari seluruh ingatanku dan seluruh langkahku ke depan.

Semoga disana, dia baik-baik saja.

Yellow, mellow....., Shit, aku benci perasaan-perasaan ini, sungguh-sungguh menganggu ketenangan hidupku.
seperti di buku yang baru saja selesai kubaca "Shit Happens", bercerita tentang tiga lajang metropolitan yang selalu aja dipaksa nikah ama ortunya masing-masing karena umur mereka udah middle twenty. aku mau seperti mereka,  tiba-tiba dapat undangan pernikahan dari dia, mungkin aku akan kalap, bingung dan sakit, seperti juga tokoh2 di buku  tersebut. tapi mungkin itu yang terbaik, biar dia bisa kuenyahkan dari pikirku.

My Life this Lebaran 1428 H  

Celoteh Herlina

Puasa, kemudian lebaran...
Indah, namun Ramadhan kali ini aku agak menyebalkan...., usahaku dalam meraihNya sangat-sangat kurang. Aku seorang hamba penuh dosa yang tak tahu terimakasih, hanya bergombal ria mencintaiNya, tapi aplikasi cintaku...., nothing....

Lebaran kali ini aku gak pulang..., ada berbagai alasan, sebentar lagi aku harus pulang, jadinya nanggung; aku malu karena belum kelar-kelar juga kuliahnya; kalo keseringan pulang ntar bosan ama rumah dan bakal kangen banget sama jogja; jarang khan lebaran sendirian; apalagi ya....., aku masih bisa ngarang setumpuk lagi alasan kok, he he he he.

kemaren waktu sholat id, rupanya aku sadar kalo aku sudah mulai membutuhkan kedekatan dengan mama, papa dan erna. sebelumnya aku memang sangat mencintai mereka, tapi hanya itu, untuk hidup bersama, so close, kayaknya belum jadi ekspektasi ku. setelah sekian lama aku tinggal bersama oma, she's the only one i always expect for. setelah hampir enam belas tahun bangun pagi dan tidur malam yang paling melekat dihidupku adalah oma dan ipul, trus berganti beberapa tahun di makassar dan sendirian cukup lama di jogja, rasanya aku sudah terbiasa dengan rasa rindu ini. kesepian dan kesendirian ini membuatku melihat banyak hal, menghargai banyak hal, namun aku juga belajar untuk improve agar aku bisa survive being alone, then i get used to it.

kemaren2 kalo berbicara tentang pulang buat selamanya, stay at home with mom and dad, wow... pikiranku langsung merujuk ke... ketidakbebasan, bosan, terkekang, de el el. tapi belakangan ini berbeda, dengan beberapa kejadian dramatis akhir-akhir ini, aku jadi semakin ingin menemani mama dan papa, semakin ingin hidup bersama mereka, bermesraan, berbicara, bertualang bersama, sedih dan bahagia bersama. Oooo.. aku udah jatuh cinta dan posesif. tapi mungkin ini adalah hal yang baik, karena memang aku harus kembali ke rumah, menemani mereka yang tak pernah aku membaktikan diriku untuk mereka.

aku sudah gak sabar buat pulang...., My one of few beloved homeland... i'm coming.

kemaren pas malam takbiran, jadi trenyuh ngeliat anak-anak kecil, pemuda-pemudi sampe orang tua mengumandangkan takbir dengan merdu dan penuh semangat. hiks...., Ya Allah, kami mengakui kekerdilan kami, ketakberdayaan kami, kami tunduk pada Mu.., Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu akbar Walillahilham. Met Lebaran ya semuanya, mohon maaf lahir batin.

Ooo..iya, lebaran kali ini beda-beda lagi harinya, An-nazir di Gowa tgl 11, Muhammadiyah tgl 12, dan pemerintah tgl 13, he he he he...., apakah fenomena kayak gini cuman terjadi di Indonesia????. yang jelas, demi menjaga keutuhan, kebersamaan, jangan mempermasalahkan perbedaan, lihatlah kesamaan yang kita punya, perbedaan hanyalah keberagaman yang memperkaya khasanah kehidupan kita.

Bahagia bersama kata-kata  

Celoteh Herlina

beberapa hari kemarin, aku seperti berada di dunia lain
walau hanya beberapa jam dari sekian 24 jam
aku sungguh bahagia
atmosfir kata-kata, seperti kekasih yang lama kembali
fiuh..., leganya tetapi
ada banyak hal menarik terjadi disana
membuatku semakin bertanya dqan ingin tahu lebih banyak

ada banyak hal yang sebelumnya tak kutahu,
banyak nama-nama yang selama ini kukagumi
kubaca karyanya, kudengar beritanya
kini berada di perahu-perahu berbeda-beda
dan sepertinya siap untuk berperang

dunia yang aneh
dan aku seperti penonton tolol
terdiam, melihat semua yang jadi kacau
melihat orang berteriak-teriak, menuding-nuding
sedang berjuang untuk kepalanya sendiri-sendiri
lalu aku keluar dari semua itu dan tertawa terbahak-bahak
entah untuk apa,
satu yang pasti kutahu,
semua yang baru saja kusaksikan, seperti komedi
sangat lucu, tapi lalu aku jadi bertanya
apa iya, aku akan terus saja tertawa

aku mencintai dunia itu
dimana kata-kata mengalir dengan begitu bebas dan indahnya
eksistensinya mungkin kini sedang terancam
antara satu dan beberapa mainstream di dalamnya
mereka saling hantam, dengan cara dan alasannya masing-masing

aku tertegun, jadi ingin tahu lebih banyak lagi
apakah gema perang di dunia indah itu akan nyaring terdengar kemana-mana
hingga semua mahluk tahu
ada dunia indah, bernama dunia kata-kata
tapi kini sedang kacau.

Papa, I Love You  

Celoteh Herlina

God, I ask chance to makes my parents happy, to love and care to them, as they always care and love me.



Papa, my dear papa, he really love me tough i'm bad, the black sheep of the family.

i have dream about taking my papa to everyplace that i love, i wanna showed him manny things

i wanna shared.



i love my papa, i dont know what to say, now he's in some bad condition. i wish he feels no suffer. i'm scared, it is the time that i will loose him, while i haven't give anything to him.



papa, i wish you will still here. God, please..

to My Vishu  

Celoteh Herlina

jab mein upar akash men taaren aur chand ko dekhti hun
mein janti hun ki tum zinda hain
tumhara hal chal, sab mujhe malum hai
jaise jhon lennon ne apna geet men likha hain ki “hum sab ekh hi gagan ke niche rahten hai”
yani agar tum upar dekhenge, to tum wahi jiz dekoge jo hum yaha par dekhti hun.

yaar, kabhi-kabhi mujhe lagti ki mein akheli hun lekin jaise ki tum hamare dost hain,
to mein janti ki tum hamare sath ho.
na patar, na sms, na fone, na chat, ye sab kuch matlab ke nahin hain
tum ne kaha hain, waise bhi mujhe lagta hain

jaise hum har din surya ki prakash dekhte hon
jaise tare badal ke piche din men lukh jate hain
wiase hi tum hain
hum tumhe dekh to nahi sakti lekin mujhe lagti hain ki tum hamare sath ho

jaisa ek pita, tum mujhe raksha karta hain
jaisa ek bhai, tum hamare anubhav ko parwah karta hain
jaisa ek acha dost, tum hamare saath apna anubhav batta hain
dukh men aur sukh men, tum meri jiwan men hamesha rahti hun
aab tum kaon hon

mein ne shabdkosh par dhundha, internet par surf kiya
ye sab tumhare bare mein bata nahi sakte
kyonki han, tum vishu hon, humare vishu

jiwan ka dost
jaise jungle men ekh geet ki tarha jho dur se hum sun sakte hein
math puchna yeh kaise ho sakta hain lekin yeh geet meri dil ko samaj liya
tum dhut to hain mujhse lekin aisa lagta hain ki tum nazdik hon

tum kambal ki tarhan hai jo mujhe tufan ki tarha dino men rakhsa karte hain
tum mujhse dhur to hain lekin tum hamare sab asun ko ponch sakte hain
tum meri dukh ko hathakar mujhe muskurana sikaya hain is mein ek sundarta hain

tumne bahut kuch kiya hain
Aab mujhe sharam ati hain
hum kaise tumhe dhanyavad karun
aaj tak mein ne kuch bhi nahi kiya

hum tumhara janam din ek maina baad tab yaad kiya
tumhare shaadi ke din men
meine tumhe congratulate nahi kiya na ek present bi dhiya
humne kabhi nahi puncha ki tumhara pariwar ke hal chal sab kaise hain
ye sab chiz mujhe karna tha lekin humne nahi kiya

yaar, mujhe maaf ki jiye na
tumhara dosti itna nirmal hain
mein yeh asha rakti hun ki ek din hum ek aisa chiz kare jo ki tum gabhrajaega
bahut bahut dhanyavad
tumhare liya, meri vishu.

(special thanks to Saula, for the translation, bahut-bahut shukriya)

 

Celoteh Herlina

Yang satu ini agak dramatis, (seakan) mengulik sisi kemanusiaan dari keteguhan memegang teguh sebuah prinsip, (apapun itu, bahkan) dari orang yang dicap pemberontak.

tulisan ini aku copy dari Milis Perempuan.



CERPEN:SURAT DARI AMBONMax Arifin (alm)

- The hour of departure has arrived

and we go our ways, I to die and you to live.

Which is better onlythe god knows.

Plato, Apology



Rentang waktu begitu panjang memisahkan kita dan kita tidak tahu apakah ini perhentian terakhir itu. Pada saat-saat seperti ini sebuah kata yang kau ucapkan dengan lirih empat puluh sembilan tahun yang lalu terus juga terikat ketat padaku. Seolah-olah kata itu menjadi semacam azimat dan memperkuat tekadku untuk bertahan: nasib. Atau takdir. Seperti ucapan Fernando Pessoa yang dikutip oleh Christiana Peri Rossi dalam novelnya The Ship of Fools yang kau kirimkan padaku, “kehidupan ini laksana sebuah pelayaran percobaan yang kadang-kadang bertentangan dengan kemauan kita”. Memang adalah suatu penemuan yang pahit bila dikatakan Tuhan itu tak ada. Karena paham ini tentu akan menghancurkan konsep tentang nasib. Menolak nasib merupakan suatu sikap yang sombong dan bila kita menyatakan bahwa kita merupakan suatu sikap yang sombong dan bila kita menyatakan bahwa kita merupakan satu-satunya yang membentuk nasib kita tentang eksistensi kita maka itu adalah merupakan kegilaan. Bila kita menolak nasib, maka hidup ini cumalah serangkaian kesempatan-kesempatan yang hilang dan gagal . Aku memang banyak merenung sejak aku tertangkap. Dunia ini seperti runtuh sudah, tak tahu apa masih ada tempat berpijak. Aku beringsut seperti keong yang malas. Waktu alamiah itu tak ada lagi, malah telah berubah menjadi batu. Aku seperti berada di tengah padang di bawah langit kelabu dan awan-awan seperti pohon liliak. Aku mendengar dari temanmu, seorang wartawan koran di Jakarta, bahwa kau hidup berpindah-pindah dari kota yang satu ke kota yang lain. Aku mencium dan merasakan kegelisahanmu. Seperti kegelisahan di sebuah rumah makan di kota Yogya pada malam itu, walau kau duduk menatap padaku tanpa kata-kata. Setelah aku membaptismu dan menggantikan nama pemberian ibumu dengan nama pemberianku. Lalu kita jalan-jalan, mengulur-ulur waktu agar malam itu tidak cepat berlalu. Kita berhenti di depan gereja di samping gedung negara dan melihat jam kota yang menunjukkan pukul dua pagi. Pagi itu aku harus berangkat ke kampung halamanku di Ambon sebagai anggota palang merah, bergabung dengan pemuda-pemuda RMS lainnya sebagai seorang perawat. Ketika kita mengarahkan pandangan ke selatan tampak Malioboro yang lengang. Aku tak dapat mengatakannya tetapi lamat-lamat terdengar puisi Chairil Anwar yang berjudul Derai-Derai Cemara, puisi yang sering kau kutip di Pakem.Aku sudah banyak melihat kematian dan mencium bau darah yang amis. Belasan pemuda remaja tiap hari berjatuhan di sebelahku diterjang peluru. Kami betul-betul dihujani peluru. Di kegelapan malam kami mengendap-endap melewati jalan Rijali, terus ke jalan Monginsidi dalam perjalanan ke Liang, sebuah desa kaum Muslimin, 34 km dari kota Ambon. Sore itu di Liang aku menatap matahari terakhir yang akan tenggelam di tanah kelahiranku. Pukul sembilan malam kami bersiap-siap menaiki tongkang menuju ke Tamilau di pulau Seram. Tiba-tiba dari kegelapan malam ratusan tentara mengepung kami. Lima mata bayonet terarah padaku. Lututku melemah dan aku duduk terkapar di pasir. Puluhan temanku gugur di sana. Anak-anak muda yang polos dan lugu dengan satu tekad ingin merdeka. Atau untuk apa? Betapa sulit menjadi seorang pahlawan. Betapa kejamnya dan tidak manusiawi dan benar-benar bodoh dan sia-sia. Tetapi aku bukannya ingin menjadi seorang pahlawan, sebuah figure, tetapi yang ingin kurebutadalah jiwa dan semangat kepahlawanan.Selama digiring ke markas TNI dan interogasi sampai ke siding pengadilan, pikiranku menjadi begitu tenang dan yang terbayang di depanku cuma dua buah lukisan: lukisan Goya yang berjudul The Shootings of May 3 dan lukisan Manet yang berjudul The Execution of Maximilian: pesakitan-pesakitan yang menghadapi regu tembak! Enam tahun aku mendekam di penjara bersama-sama dengan teman-temanku.“Aku ingin kau jadi penyair,” kataku pada malam itu di rumah makan di depan pasar Beringharjo. “Dan menyelesaikan studimu di Gajah Mada”. Kau diam saja. cuma pandanganmu memperlihatkan keheranan. Aku juga tidak tahu kenapa malam terakhir itu berjalan kaku dan pikiranku melayang ke sana-ke mari. Tiga bulan yang lalu kau pulang dari sanatorium Pakem; di sana aku ikut merawat kau. “seorang penyair seperti yang ditulis oleh Oriana Fallaci tentang kekasihnya Alekos Panagoulis yang dihukum mati oleh pemerintah diktatur Yunani dalam novelnya The Man. Bukan sekedar penyair yang cuma memanipulasi dan membuat teka-teki dengan kata-kata”. Kau diam saja dan mengaduk-aduk sisa-sisa makanan di depanmu. “Tapi ‘a rebel poet’, kata Fallaci, seorang penyair yang bebas dari kekangan, dari pola-pola, dari tabu-tabu, bahkan terbebas dari konsep-konsep gelap dan tidak gelap karena adanya keunikanmu sebagai seorang pahlawan kesepian, berpegang teguh pada mimpi-mimpi dan imajinasi yangkadang-kadang tidak masuk akal. Aku ingin memberi arti pada hidup ini. Kau pernah membisikkan ke telingaku : Love me for what I am. Tapi aku tidak. Aku tidak mencintai kau seperti apa adanya, tetapi aku mencintai kau seperti keinginanku. Besok bukanlah hari yang lain bila eksistensinya tidak berisi sifat-sifat yang manusiawi. Cintaku aneh? Mungkin, karena cintaku memiliki kebajikan yang menjengkelkan alam. Dalam pelukan-pelukan yang kita lakukan yang kadang-kadang liar dan manis, yang kucari bukanlah tubuhmu, tetapi jiwamu, pemikiran-pemikiran mu, perasaan-perasaanmu , mimpi-mimpimu dan puisi-puisimu yang akan dating”. Kau menunduk, menyembunyikan air matamu. Memang kita sepakat untuk memilih jalan yang tidak banyak dilalui orang, beribu hambatan tetapi kita tahu jalan ini yang telah kita pilih sesuai dengan kata hati dan kepedulian bagi perbaikan kehidupan manusia. Memang aku mencoba mengidealisasikan tragedi dalam kehidupan kita yang terdiri atas tiga unsur: cinta,kepedihan dan kematian. Aku ingat waktu pertama kali aku mengajak kau ke gereja di depan pasar Beringharjo itu. Untuk apa, kau bertanya. Untuk menambah pemahamanmu tentang agamaku. Ketika menyanyikan mazmur, kau ikut berdiri dan memandang padaku sebentar. Kau bilang khotbah sang pendeta itu sangat berkesan tetapi masih gelap bagimu. Tak apa Di langit-langit gereja Santo Petrus di Roma yang dibuat oleh Michelangelo. Dalam khotbahnya pendeta berkata, bahwa orang-orang Kristen----- lewat inkarnasi Kristus----telah mampu mengalami sejarah sebagai suatu “theopany yang positif”. Yesus telah mengkuduskan sejarah, memberikannya suatu nilai positif melalui inkarnasi itu, dengan demikian sejarah itu mendapat arti, tujuan dan arah. Jadi sudah sejak awal, orang-orang Kristen tidak pernah mengidentifikasi sejarah dalam cara-cara yang katastrofik.Dan untuk pemahamanku tentang agamamu, di suatu senja kau mengajak aku ke sebuah pengajian di pondok pesantren di pinggir kota Yogya. Ketika selesai, cuma satu yang kupahami, bahwa agamamu adalah agama perdamaian, karena kata-kata itulah yang selalu diulang-ulang. Kiai itu berkata, kita membutuhkan sikap keterbukaan untuk melihat sisi-sisi yang tidak ditemukan dalam kitab suci kita sendiri. Kaum Muslimin bias jadi memiliki Kristologi sendiri yang berbeda dengan pandangan Kristen. Ya, boleh jadi.Surat ini kutulis pada senja hari di rumahku di luar kota Ambon , di suatu sudut terpencil, di ujung Jalan Dr. Tamaela. Usiaku sudah senja; waktuku tidak banyak lagi. Yang membuat aku gembira adalah, bahwa pada saat seperti ini aku masih bias berkomunikasi dengan kau walau tidak sekerap yang kita inginkan. Aku masih ingat ketika berpisah pagi itu. Kita berciuman. Lama sekali. Aku melarang kau mengantar aku ke stasiun. Aku takut, aku tidak sanggup menghadapi suatu perpisahan.Kau bahagia dengan istri dan anak-anakmu? Aku terus membujang, hanya seorang keponakan menemani aku. Aku menepati janjiku. Yang merisaukan hatiku adalah situasi kota Ambon selama tiga tahun terakhir ini. Semua sendi-sendi hidup bermasyarakat hancur. Yang ada adalah kebencian yang begitu menyala di setiap mata orang. Pela Gadong yang kami bangga-banggakan, entah berada di mana. Kami sudah tidak “ baku baik” selama tiga tahun ini.Aku takut masing-masing kami mengartikan theophany--- -manifestasi aktual Tuhan----secara negative. Menjadi kemarahan Tuhan dan sebagai penyebab tingkah-laku hamba-hambanya, suatu paham yang menyebabkan orang-orang Yahudi mengalami “kejatuhan ke dalam sejarah”.Kita menjadi hamba ketegangan dan tidak memiliki daya tangkal dalam diri kita yang bersifat mekanis, tak mampu menjawab stimuli-stimuli yang berada di tempat jauh, momok-momok krisis itu. Kita tidak mampu menjelmakan kata-kata dan perbuatan ke salam dunia manusiawi sebagai suatu kelahiran yang kedua kalinya.Aku takut, atavisme yang disebut-sebut oleh Saul Bellow----pemenang Nobel itu---pada akhir bukunya To Yerusalem and Back memang terus mengikuti kita. Ia menulis: Di zaman purba di tembok-tembok kota yang ditaklukkan di Timur Tengah kadang-kadang digantung kulit-kulit orang-orang yang ditaklukkan. Kebiasaan itu sudah hilang. Tetapi keinginan untuk membunuh untuk tujuan-tujuan politik----atau pembenaran pembunuhan dengan tujuan-tujuan politik itu---adalah masih tetap seperti dulu.Aku sudah lelah. Mendekam di penjara selama sekian tahun menghadiahkan berbagai penyakit padaku. Bukan kematian yang menakutkan aku, tetapi “the coming of age”----datangnya usia tua. Karena aku sudah pernah melangkah dari kematian yang satu ke kematian yang lain.Terima kasih atas kiriman buku-buku itu. Semuanya menarik.Salam manis dan rinduku selalu.


MARIA THERESIA.

Ambon , April 2004

(dimuat jurnal kebudayaan banyumili edisi perdana, april 2007)
Dari milis Perempuan 7 Juli 2007.

"Pamanakal Pung Karja"  

Celoteh Herlina

Extra Joke For Mr. President

hari ini Ambon bakal jadi tenar lagi, gimana enggak, dua koran lokal yang aku baca pagi ini memberitakan tentang pengibaran bendera RMS di depan SBY, oleh sekelompok pemuda dengan menyamar sebagai penari cakalele.
pertama baca berita itu, aku kaget tapi sampe aku posting, yang tersisa adalah rasa bangga + lucu. kenapa begitu, karena bagi aku yang orang ambon, pengibaran bendera RMS tuh hal yang biasa (walau aku cuma dengar cerita adekku yang SD nya di daerah agak pedalaman). Kalo gak salah di hampir tiap ulang tahun RMS, di daerah-daerah tertentu, terutama di daerah-daerah yang bisa dikategorikan pedalaman, bendera RMS rutin dikibarkan, salah satu yang diceritakan padaku adalah di sekolahan SD negeri, tempat adekku sekolah. so..., menurutku hal itu biasa. yang bikin aku merasa agak lucu dan bangga, adalah keberanian anak-anak muda itu, mengibarkannya, hanya dari jarak sekitar 8 m, dari Presiden NKRI. Well, Nyong.., ale kabaresi paskali.
Menurutku para pemuda itu luar biasa. kalo dilihat, apa sih yang mereka lakukan, cuma ngibarin bendera, di depan Presiden, that's all. mereka gak nembak, gak nombakkin, gak ngelemparin pisau, gak nge bom, atau perbuatan yang bisa membahayakan Presiden secara fisik. tapi yang jelas, Presiden SBY, kudu malu dah, di negaranya sendiri, didepan rakyatnya, dia dilecehkan oleh sekelompok pemuda yang mengibarkan bendera separatis, dan hanya itu, hanya mengibarkan bendera.
he he he, Nyong Ambon.., beta banga ale brani. tapi katong lia dolo dia punya dudu masalah. khusus for Mr. President, anda harusnya merasa bangga punya generasi muda seberani mereka, liat lho mereka gak punya devense apapun, mereka bahkan mungkin tahu, setelah peristiwa tersebut banyak hal buruk bisa terjadi sama mereka, but they still doing that.
yang aku ingin bilang adalah, presiden harusnya bisa bertanya pada dirinya, pada organ kerjanya, apa sih yang salah, kok sampai ada rakyat yang mau memisahkan diri, walau mungkin yang dicurigai adalah pihak luar, but once again kalo dirumah sendiri cukup makan, cukup bahagia, cukup nyaman, cukup partisipasi, cukup didengarkan, cukup diperhatikan, apa perlu kita minta bantuan tetangga.
Sebaiknya bapak Presiden, jangan menghukum anak-anak muda itu, menurut aku mereka mengeluarkan protes dengan sangat indah, tapi bentuknya tetap sebuah protes yang tajam, bukan kepalsuan yang selalu ditampilkan oleh Pemda atau pemerintah setempat kalo ada pembesar-pembesar yang mo datang berkunjung, semuanya di make-up, semuanya dibikin bagus, dijadikan standar.
Aku yakin, SBY bisa, Ayolah Pak, lihatlah pelangi dibalik badai.

“Dimana kah dia”  

Celoteh Herlina

Tak di pagi, pun siang
Juga malam
Tetap kau tak kutemui
Sudah kubolak-balik
Kuhadiri gelaran waktu
Di tiap helaian hari
Tak jua kau kutemui

Masih panjangkah kisah ini
Mengapa begitu kuat
Menentang angin
Karungkan badai

Jika memang ini sejati
Mengapa ragu menggalau

duh.., Engkau,
Sang Penjaga hati
Aduanku ini, doa untuk bahagianya

Message in a Bottle lagi,...  

Celoteh Herlina

kemaren, tanggal 24 Juni, aku ke Pantai Depok lagi. sepertti biasa lah makan, tapi kali ini ditraktir, asyiikkk!!!.
lagi dan lagi, seperti selalu, aku nggak lupa nulis message in a bottle, semoga kemanapun (kayaknya gak kemana-mana) air laut membawanya, suatu saat dia akan mengirimkan sinyalnya padaku.
aku akan terus menunggu.

Aku Minta Maaf, Mina Gomenasai!!!!!  

Celoteh Herlina

Hari ini, aku melakukan lagi sebah kesalahan besar, inginnya aku nggak melakukannya, tapi gimana lagi, mamapapa, maafkan aku, aku tahu lagi dan lagi aku mengambil jalan yang salah. hanya berharap kalian tidak akan pernah tahu, dan semoga tak lagi-lagi aku membuat kalian meneteskan air mata.
selalu dan selalu, aku mengambil jalan-jalan yang salah, sueerr!!!, semua itu aku lakuin untuk kembali ke jalan yang benar, walau aku gak tahu, apakah aku akan benar-benar bisa kembali.

aku minta maaf, pada diriku sendiri, karena aku telah mengkhianati janjiku, aku janji untuk percaya pada kemampuan tubuhku untuk self healing, aku percaya pada medicine non fabrique, aku udah janji gak mau merusak ginjalku dengan menambahkan obat-obatan yang terlalu memanjakan manusia, aku janji untuk tidak mengkonsumsi antibiotik, penghilang sakit, penurun bengkak, etc. tapi hari ini kulanggar janji itu, aku beli vitamin, aku beli obat batuk dan antiseptik mulut.

aku minta maaf, pada diriku sendiri, karena aku telah mengkhianati janjiku, aku janji untuk mulai mencoba hidup tidak hedon, anti kemapanan, bahwa uang bukanlah segalanya, bahwa masih banyak hal lain yang bisa bikin manusia survive dan bahagia. tapi hari ini, aku mengkhianati diriku lagi, aku sangat butuh uang, aku butuh pengobatan, aku butuh membeli makanan yang higienis, aku minum lagi air mineral kemasan (yang sudah kukutuki mereknya), aku mengkhianati diriku.

aku minta maaf, pada teman-temanku,di NTT, di desa-desa miskin di Indonesia, di Etopia, di jalanan, di kolong jembatan, di TPA atau dimanapun yang kalian sangat sulit memperoleh makanan, hari ini aku mengkhianati kalian, aku makan fast food, junkfood, kapitalis food. sebuah dada ayam goreng yang crispy jadi santap siangku, dengan beringas aku melahapnya. aku salah, aku khianati kalian.

aku minta maaf, pada temanku, yang sakit, yang tak mampu beli obat dan membayar biaya perawatan, maafkan aku, hari ini membeli obat di apotik Waralaba yang buka 24 jam, aku beli obat batuk, antiseptik dan vitamin C, maafkan aku, khianati kalian.

maafkan aku, kulakukan semua ini dengan penuh kesadaran dan juga pertimbangan, ada hal-hal yang ingin kucapai, segera, dan itulah yang kurasa harus kulakukan (emang aku pragmatais, sialan!!!)

aku minta maaf, Pada Tuhan, semoga Dia mau memafkan dosaku yang sangat banyaknya.
semoga orang-orang yang kukhianati mau memaafkanku,
semoga mamapapa memafkan dan memahami salah langkahku.

aku minta maaf, Gomenasai, Mina Gomenasai!!!...