to My Vishu  

Celoteh Herlina

jab mein upar akash men taaren aur chand ko dekhti hun
mein janti hun ki tum zinda hain
tumhara hal chal, sab mujhe malum hai
jaise jhon lennon ne apna geet men likha hain ki “hum sab ekh hi gagan ke niche rahten hai”
yani agar tum upar dekhenge, to tum wahi jiz dekoge jo hum yaha par dekhti hun.

yaar, kabhi-kabhi mujhe lagti ki mein akheli hun lekin jaise ki tum hamare dost hain,
to mein janti ki tum hamare sath ho.
na patar, na sms, na fone, na chat, ye sab kuch matlab ke nahin hain
tum ne kaha hain, waise bhi mujhe lagta hain

jaise hum har din surya ki prakash dekhte hon
jaise tare badal ke piche din men lukh jate hain
wiase hi tum hain
hum tumhe dekh to nahi sakti lekin mujhe lagti hain ki tum hamare sath ho

jaisa ek pita, tum mujhe raksha karta hain
jaisa ek bhai, tum hamare anubhav ko parwah karta hain
jaisa ek acha dost, tum hamare saath apna anubhav batta hain
dukh men aur sukh men, tum meri jiwan men hamesha rahti hun
aab tum kaon hon

mein ne shabdkosh par dhundha, internet par surf kiya
ye sab tumhare bare mein bata nahi sakte
kyonki han, tum vishu hon, humare vishu

jiwan ka dost
jaise jungle men ekh geet ki tarha jho dur se hum sun sakte hein
math puchna yeh kaise ho sakta hain lekin yeh geet meri dil ko samaj liya
tum dhut to hain mujhse lekin aisa lagta hain ki tum nazdik hon

tum kambal ki tarhan hai jo mujhe tufan ki tarha dino men rakhsa karte hain
tum mujhse dhur to hain lekin tum hamare sab asun ko ponch sakte hain
tum meri dukh ko hathakar mujhe muskurana sikaya hain is mein ek sundarta hain

tumne bahut kuch kiya hain
Aab mujhe sharam ati hain
hum kaise tumhe dhanyavad karun
aaj tak mein ne kuch bhi nahi kiya

hum tumhara janam din ek maina baad tab yaad kiya
tumhare shaadi ke din men
meine tumhe congratulate nahi kiya na ek present bi dhiya
humne kabhi nahi puncha ki tumhara pariwar ke hal chal sab kaise hain
ye sab chiz mujhe karna tha lekin humne nahi kiya

yaar, mujhe maaf ki jiye na
tumhara dosti itna nirmal hain
mein yeh asha rakti hun ki ek din hum ek aisa chiz kare jo ki tum gabhrajaega
bahut bahut dhanyavad
tumhare liya, meri vishu.

(special thanks to Saula, for the translation, bahut-bahut shukriya)

 

Celoteh Herlina

Yang satu ini agak dramatis, (seakan) mengulik sisi kemanusiaan dari keteguhan memegang teguh sebuah prinsip, (apapun itu, bahkan) dari orang yang dicap pemberontak.

tulisan ini aku copy dari Milis Perempuan.



CERPEN:SURAT DARI AMBONMax Arifin (alm)

- The hour of departure has arrived

and we go our ways, I to die and you to live.

Which is better onlythe god knows.

Plato, Apology



Rentang waktu begitu panjang memisahkan kita dan kita tidak tahu apakah ini perhentian terakhir itu. Pada saat-saat seperti ini sebuah kata yang kau ucapkan dengan lirih empat puluh sembilan tahun yang lalu terus juga terikat ketat padaku. Seolah-olah kata itu menjadi semacam azimat dan memperkuat tekadku untuk bertahan: nasib. Atau takdir. Seperti ucapan Fernando Pessoa yang dikutip oleh Christiana Peri Rossi dalam novelnya The Ship of Fools yang kau kirimkan padaku, “kehidupan ini laksana sebuah pelayaran percobaan yang kadang-kadang bertentangan dengan kemauan kita”. Memang adalah suatu penemuan yang pahit bila dikatakan Tuhan itu tak ada. Karena paham ini tentu akan menghancurkan konsep tentang nasib. Menolak nasib merupakan suatu sikap yang sombong dan bila kita menyatakan bahwa kita merupakan suatu sikap yang sombong dan bila kita menyatakan bahwa kita merupakan satu-satunya yang membentuk nasib kita tentang eksistensi kita maka itu adalah merupakan kegilaan. Bila kita menolak nasib, maka hidup ini cumalah serangkaian kesempatan-kesempatan yang hilang dan gagal . Aku memang banyak merenung sejak aku tertangkap. Dunia ini seperti runtuh sudah, tak tahu apa masih ada tempat berpijak. Aku beringsut seperti keong yang malas. Waktu alamiah itu tak ada lagi, malah telah berubah menjadi batu. Aku seperti berada di tengah padang di bawah langit kelabu dan awan-awan seperti pohon liliak. Aku mendengar dari temanmu, seorang wartawan koran di Jakarta, bahwa kau hidup berpindah-pindah dari kota yang satu ke kota yang lain. Aku mencium dan merasakan kegelisahanmu. Seperti kegelisahan di sebuah rumah makan di kota Yogya pada malam itu, walau kau duduk menatap padaku tanpa kata-kata. Setelah aku membaptismu dan menggantikan nama pemberian ibumu dengan nama pemberianku. Lalu kita jalan-jalan, mengulur-ulur waktu agar malam itu tidak cepat berlalu. Kita berhenti di depan gereja di samping gedung negara dan melihat jam kota yang menunjukkan pukul dua pagi. Pagi itu aku harus berangkat ke kampung halamanku di Ambon sebagai anggota palang merah, bergabung dengan pemuda-pemuda RMS lainnya sebagai seorang perawat. Ketika kita mengarahkan pandangan ke selatan tampak Malioboro yang lengang. Aku tak dapat mengatakannya tetapi lamat-lamat terdengar puisi Chairil Anwar yang berjudul Derai-Derai Cemara, puisi yang sering kau kutip di Pakem.Aku sudah banyak melihat kematian dan mencium bau darah yang amis. Belasan pemuda remaja tiap hari berjatuhan di sebelahku diterjang peluru. Kami betul-betul dihujani peluru. Di kegelapan malam kami mengendap-endap melewati jalan Rijali, terus ke jalan Monginsidi dalam perjalanan ke Liang, sebuah desa kaum Muslimin, 34 km dari kota Ambon. Sore itu di Liang aku menatap matahari terakhir yang akan tenggelam di tanah kelahiranku. Pukul sembilan malam kami bersiap-siap menaiki tongkang menuju ke Tamilau di pulau Seram. Tiba-tiba dari kegelapan malam ratusan tentara mengepung kami. Lima mata bayonet terarah padaku. Lututku melemah dan aku duduk terkapar di pasir. Puluhan temanku gugur di sana. Anak-anak muda yang polos dan lugu dengan satu tekad ingin merdeka. Atau untuk apa? Betapa sulit menjadi seorang pahlawan. Betapa kejamnya dan tidak manusiawi dan benar-benar bodoh dan sia-sia. Tetapi aku bukannya ingin menjadi seorang pahlawan, sebuah figure, tetapi yang ingin kurebutadalah jiwa dan semangat kepahlawanan.Selama digiring ke markas TNI dan interogasi sampai ke siding pengadilan, pikiranku menjadi begitu tenang dan yang terbayang di depanku cuma dua buah lukisan: lukisan Goya yang berjudul The Shootings of May 3 dan lukisan Manet yang berjudul The Execution of Maximilian: pesakitan-pesakitan yang menghadapi regu tembak! Enam tahun aku mendekam di penjara bersama-sama dengan teman-temanku.“Aku ingin kau jadi penyair,” kataku pada malam itu di rumah makan di depan pasar Beringharjo. “Dan menyelesaikan studimu di Gajah Mada”. Kau diam saja. cuma pandanganmu memperlihatkan keheranan. Aku juga tidak tahu kenapa malam terakhir itu berjalan kaku dan pikiranku melayang ke sana-ke mari. Tiga bulan yang lalu kau pulang dari sanatorium Pakem; di sana aku ikut merawat kau. “seorang penyair seperti yang ditulis oleh Oriana Fallaci tentang kekasihnya Alekos Panagoulis yang dihukum mati oleh pemerintah diktatur Yunani dalam novelnya The Man. Bukan sekedar penyair yang cuma memanipulasi dan membuat teka-teki dengan kata-kata”. Kau diam saja dan mengaduk-aduk sisa-sisa makanan di depanmu. “Tapi ‘a rebel poet’, kata Fallaci, seorang penyair yang bebas dari kekangan, dari pola-pola, dari tabu-tabu, bahkan terbebas dari konsep-konsep gelap dan tidak gelap karena adanya keunikanmu sebagai seorang pahlawan kesepian, berpegang teguh pada mimpi-mimpi dan imajinasi yangkadang-kadang tidak masuk akal. Aku ingin memberi arti pada hidup ini. Kau pernah membisikkan ke telingaku : Love me for what I am. Tapi aku tidak. Aku tidak mencintai kau seperti apa adanya, tetapi aku mencintai kau seperti keinginanku. Besok bukanlah hari yang lain bila eksistensinya tidak berisi sifat-sifat yang manusiawi. Cintaku aneh? Mungkin, karena cintaku memiliki kebajikan yang menjengkelkan alam. Dalam pelukan-pelukan yang kita lakukan yang kadang-kadang liar dan manis, yang kucari bukanlah tubuhmu, tetapi jiwamu, pemikiran-pemikiran mu, perasaan-perasaanmu , mimpi-mimpimu dan puisi-puisimu yang akan dating”. Kau menunduk, menyembunyikan air matamu. Memang kita sepakat untuk memilih jalan yang tidak banyak dilalui orang, beribu hambatan tetapi kita tahu jalan ini yang telah kita pilih sesuai dengan kata hati dan kepedulian bagi perbaikan kehidupan manusia. Memang aku mencoba mengidealisasikan tragedi dalam kehidupan kita yang terdiri atas tiga unsur: cinta,kepedihan dan kematian. Aku ingat waktu pertama kali aku mengajak kau ke gereja di depan pasar Beringharjo itu. Untuk apa, kau bertanya. Untuk menambah pemahamanmu tentang agamaku. Ketika menyanyikan mazmur, kau ikut berdiri dan memandang padaku sebentar. Kau bilang khotbah sang pendeta itu sangat berkesan tetapi masih gelap bagimu. Tak apa Di langit-langit gereja Santo Petrus di Roma yang dibuat oleh Michelangelo. Dalam khotbahnya pendeta berkata, bahwa orang-orang Kristen----- lewat inkarnasi Kristus----telah mampu mengalami sejarah sebagai suatu “theopany yang positif”. Yesus telah mengkuduskan sejarah, memberikannya suatu nilai positif melalui inkarnasi itu, dengan demikian sejarah itu mendapat arti, tujuan dan arah. Jadi sudah sejak awal, orang-orang Kristen tidak pernah mengidentifikasi sejarah dalam cara-cara yang katastrofik.Dan untuk pemahamanku tentang agamamu, di suatu senja kau mengajak aku ke sebuah pengajian di pondok pesantren di pinggir kota Yogya. Ketika selesai, cuma satu yang kupahami, bahwa agamamu adalah agama perdamaian, karena kata-kata itulah yang selalu diulang-ulang. Kiai itu berkata, kita membutuhkan sikap keterbukaan untuk melihat sisi-sisi yang tidak ditemukan dalam kitab suci kita sendiri. Kaum Muslimin bias jadi memiliki Kristologi sendiri yang berbeda dengan pandangan Kristen. Ya, boleh jadi.Surat ini kutulis pada senja hari di rumahku di luar kota Ambon , di suatu sudut terpencil, di ujung Jalan Dr. Tamaela. Usiaku sudah senja; waktuku tidak banyak lagi. Yang membuat aku gembira adalah, bahwa pada saat seperti ini aku masih bias berkomunikasi dengan kau walau tidak sekerap yang kita inginkan. Aku masih ingat ketika berpisah pagi itu. Kita berciuman. Lama sekali. Aku melarang kau mengantar aku ke stasiun. Aku takut, aku tidak sanggup menghadapi suatu perpisahan.Kau bahagia dengan istri dan anak-anakmu? Aku terus membujang, hanya seorang keponakan menemani aku. Aku menepati janjiku. Yang merisaukan hatiku adalah situasi kota Ambon selama tiga tahun terakhir ini. Semua sendi-sendi hidup bermasyarakat hancur. Yang ada adalah kebencian yang begitu menyala di setiap mata orang. Pela Gadong yang kami bangga-banggakan, entah berada di mana. Kami sudah tidak “ baku baik” selama tiga tahun ini.Aku takut masing-masing kami mengartikan theophany--- -manifestasi aktual Tuhan----secara negative. Menjadi kemarahan Tuhan dan sebagai penyebab tingkah-laku hamba-hambanya, suatu paham yang menyebabkan orang-orang Yahudi mengalami “kejatuhan ke dalam sejarah”.Kita menjadi hamba ketegangan dan tidak memiliki daya tangkal dalam diri kita yang bersifat mekanis, tak mampu menjawab stimuli-stimuli yang berada di tempat jauh, momok-momok krisis itu. Kita tidak mampu menjelmakan kata-kata dan perbuatan ke salam dunia manusiawi sebagai suatu kelahiran yang kedua kalinya.Aku takut, atavisme yang disebut-sebut oleh Saul Bellow----pemenang Nobel itu---pada akhir bukunya To Yerusalem and Back memang terus mengikuti kita. Ia menulis: Di zaman purba di tembok-tembok kota yang ditaklukkan di Timur Tengah kadang-kadang digantung kulit-kulit orang-orang yang ditaklukkan. Kebiasaan itu sudah hilang. Tetapi keinginan untuk membunuh untuk tujuan-tujuan politik----atau pembenaran pembunuhan dengan tujuan-tujuan politik itu---adalah masih tetap seperti dulu.Aku sudah lelah. Mendekam di penjara selama sekian tahun menghadiahkan berbagai penyakit padaku. Bukan kematian yang menakutkan aku, tetapi “the coming of age”----datangnya usia tua. Karena aku sudah pernah melangkah dari kematian yang satu ke kematian yang lain.Terima kasih atas kiriman buku-buku itu. Semuanya menarik.Salam manis dan rinduku selalu.


MARIA THERESIA.

Ambon , April 2004

(dimuat jurnal kebudayaan banyumili edisi perdana, april 2007)
Dari milis Perempuan 7 Juli 2007.

"Pamanakal Pung Karja"  

Celoteh Herlina

Extra Joke For Mr. President

hari ini Ambon bakal jadi tenar lagi, gimana enggak, dua koran lokal yang aku baca pagi ini memberitakan tentang pengibaran bendera RMS di depan SBY, oleh sekelompok pemuda dengan menyamar sebagai penari cakalele.
pertama baca berita itu, aku kaget tapi sampe aku posting, yang tersisa adalah rasa bangga + lucu. kenapa begitu, karena bagi aku yang orang ambon, pengibaran bendera RMS tuh hal yang biasa (walau aku cuma dengar cerita adekku yang SD nya di daerah agak pedalaman). Kalo gak salah di hampir tiap ulang tahun RMS, di daerah-daerah tertentu, terutama di daerah-daerah yang bisa dikategorikan pedalaman, bendera RMS rutin dikibarkan, salah satu yang diceritakan padaku adalah di sekolahan SD negeri, tempat adekku sekolah. so..., menurutku hal itu biasa. yang bikin aku merasa agak lucu dan bangga, adalah keberanian anak-anak muda itu, mengibarkannya, hanya dari jarak sekitar 8 m, dari Presiden NKRI. Well, Nyong.., ale kabaresi paskali.
Menurutku para pemuda itu luar biasa. kalo dilihat, apa sih yang mereka lakukan, cuma ngibarin bendera, di depan Presiden, that's all. mereka gak nembak, gak nombakkin, gak ngelemparin pisau, gak nge bom, atau perbuatan yang bisa membahayakan Presiden secara fisik. tapi yang jelas, Presiden SBY, kudu malu dah, di negaranya sendiri, didepan rakyatnya, dia dilecehkan oleh sekelompok pemuda yang mengibarkan bendera separatis, dan hanya itu, hanya mengibarkan bendera.
he he he, Nyong Ambon.., beta banga ale brani. tapi katong lia dolo dia punya dudu masalah. khusus for Mr. President, anda harusnya merasa bangga punya generasi muda seberani mereka, liat lho mereka gak punya devense apapun, mereka bahkan mungkin tahu, setelah peristiwa tersebut banyak hal buruk bisa terjadi sama mereka, but they still doing that.
yang aku ingin bilang adalah, presiden harusnya bisa bertanya pada dirinya, pada organ kerjanya, apa sih yang salah, kok sampai ada rakyat yang mau memisahkan diri, walau mungkin yang dicurigai adalah pihak luar, but once again kalo dirumah sendiri cukup makan, cukup bahagia, cukup nyaman, cukup partisipasi, cukup didengarkan, cukup diperhatikan, apa perlu kita minta bantuan tetangga.
Sebaiknya bapak Presiden, jangan menghukum anak-anak muda itu, menurut aku mereka mengeluarkan protes dengan sangat indah, tapi bentuknya tetap sebuah protes yang tajam, bukan kepalsuan yang selalu ditampilkan oleh Pemda atau pemerintah setempat kalo ada pembesar-pembesar yang mo datang berkunjung, semuanya di make-up, semuanya dibikin bagus, dijadikan standar.
Aku yakin, SBY bisa, Ayolah Pak, lihatlah pelangi dibalik badai.

“Dimana kah dia”  

Celoteh Herlina

Tak di pagi, pun siang
Juga malam
Tetap kau tak kutemui
Sudah kubolak-balik
Kuhadiri gelaran waktu
Di tiap helaian hari
Tak jua kau kutemui

Masih panjangkah kisah ini
Mengapa begitu kuat
Menentang angin
Karungkan badai

Jika memang ini sejati
Mengapa ragu menggalau

duh.., Engkau,
Sang Penjaga hati
Aduanku ini, doa untuk bahagianya

Message in a Bottle lagi,...  

Celoteh Herlina

kemaren, tanggal 24 Juni, aku ke Pantai Depok lagi. sepertti biasa lah makan, tapi kali ini ditraktir, asyiikkk!!!.
lagi dan lagi, seperti selalu, aku nggak lupa nulis message in a bottle, semoga kemanapun (kayaknya gak kemana-mana) air laut membawanya, suatu saat dia akan mengirimkan sinyalnya padaku.
aku akan terus menunggu.

Aku Minta Maaf, Mina Gomenasai!!!!!  

Celoteh Herlina

Hari ini, aku melakukan lagi sebah kesalahan besar, inginnya aku nggak melakukannya, tapi gimana lagi, mamapapa, maafkan aku, aku tahu lagi dan lagi aku mengambil jalan yang salah. hanya berharap kalian tidak akan pernah tahu, dan semoga tak lagi-lagi aku membuat kalian meneteskan air mata.
selalu dan selalu, aku mengambil jalan-jalan yang salah, sueerr!!!, semua itu aku lakuin untuk kembali ke jalan yang benar, walau aku gak tahu, apakah aku akan benar-benar bisa kembali.

aku minta maaf, pada diriku sendiri, karena aku telah mengkhianati janjiku, aku janji untuk percaya pada kemampuan tubuhku untuk self healing, aku percaya pada medicine non fabrique, aku udah janji gak mau merusak ginjalku dengan menambahkan obat-obatan yang terlalu memanjakan manusia, aku janji untuk tidak mengkonsumsi antibiotik, penghilang sakit, penurun bengkak, etc. tapi hari ini kulanggar janji itu, aku beli vitamin, aku beli obat batuk dan antiseptik mulut.

aku minta maaf, pada diriku sendiri, karena aku telah mengkhianati janjiku, aku janji untuk mulai mencoba hidup tidak hedon, anti kemapanan, bahwa uang bukanlah segalanya, bahwa masih banyak hal lain yang bisa bikin manusia survive dan bahagia. tapi hari ini, aku mengkhianati diriku lagi, aku sangat butuh uang, aku butuh pengobatan, aku butuh membeli makanan yang higienis, aku minum lagi air mineral kemasan (yang sudah kukutuki mereknya), aku mengkhianati diriku.

aku minta maaf, pada teman-temanku,di NTT, di desa-desa miskin di Indonesia, di Etopia, di jalanan, di kolong jembatan, di TPA atau dimanapun yang kalian sangat sulit memperoleh makanan, hari ini aku mengkhianati kalian, aku makan fast food, junkfood, kapitalis food. sebuah dada ayam goreng yang crispy jadi santap siangku, dengan beringas aku melahapnya. aku salah, aku khianati kalian.

aku minta maaf, pada temanku, yang sakit, yang tak mampu beli obat dan membayar biaya perawatan, maafkan aku, hari ini membeli obat di apotik Waralaba yang buka 24 jam, aku beli obat batuk, antiseptik dan vitamin C, maafkan aku, khianati kalian.

maafkan aku, kulakukan semua ini dengan penuh kesadaran dan juga pertimbangan, ada hal-hal yang ingin kucapai, segera, dan itulah yang kurasa harus kulakukan (emang aku pragmatais, sialan!!!)

aku minta maaf, Pada Tuhan, semoga Dia mau memafkan dosaku yang sangat banyaknya.
semoga orang-orang yang kukhianati mau memaafkanku,
semoga mamapapa memafkan dan memahami salah langkahku.

aku minta maaf, Gomenasai, Mina Gomenasai!!!...

Kebahagian yang Gamang  

Celoteh Herlina



Pada setiap pagi, di Lapangan Jogonalan, pada setiap terbitnya mentari, membelah, menyibak cantiknya hijau sawah yang membentang luas di seberang jalannya.

Lalu, aku tertegun, dari Seberang, ke kelapangan hijau aku memandang. So amazing, ada banyak yang tercipta..., ada berbagai ruang, seperti menjelma 3 dimensi di hadapanku.., tentang perasaanku, tentang masa depan yang kuimpikan, tentang harapan-harapan, tentang rasa-rasa putus asa itu, pokonya tentang semuanya, di kombinasikan, dan tetap jadi sebuah kebahagiaan..., kebahagiaan yang gamang.

bahagia tetapi miris.

seiring mentari semakin naik, semakin indah, tapi cuma sebentar, lalu jalanan mulai ramai, menutupi semuanya, membatasi sekarang dan nanti ku, menghilanglah khayalku...,

tapi setiap kali, kapanpun, diwaktu apapun, ketika aku lewat di jalanan depam sawah di seberang lapangan Jogonalan, maka perasaan aneh itu akan selalu muncul..., dan di alam yang paling jauh semampu kudengar, ada bisikan.."bahagia yang gamang".

Iklim Mikro itu....  

Celoteh Herlina

musim ini,
bunga-bunga mekar
kupu-kupu bercinta,
dan alam bernyanyi bahagia

hutan Pardiyan
lama sekali tak kusapa
tapi, begitu bersua
selalu dan selalu
ada surga indah di dalamnya
permata hijau menakjubkan
di keramaian polusi Jogja

Iklim Mikro yang kalian hadirkan,
kesejukan itu
ketentraman luar biasa

apa kabar jati, eboni,
akasia, gmelina, lamtoro,

aku merindukan kalian
aku mau berpuluh-puluh tahun lagi,
jika aku kembali
tetap kita dapat bersua

TERNYATA....!!!!!  

Celoteh Herlina

entah mo marah, sedih, atau bagaimana...,
tapi yang pertama keluar adalah sebel..., sebel...., sebel !!!!!

ternyata..., dia bukan hanya gak nganggap aku seseorang yang spesial, teman pun kagak

ternyata...., dia bukannya mikirin perasaanku, tapi dia malah gak peduli mo aku salah atau benar

ternyata...., dia bukannya menyembunyikan perasaannya, tapi dia memang gak sayang sama aku

ternyata...., mencintainya sungguh sebuah lautan penderitaan tak bertepi

ternyata...., menguras semua emosi yang kumiliki

entah masih bisakah kunikmati semua derita ini. aku mungkin sudah mulai bernada putus asa. tapi still, "pengalaman hidup tuh berharga banget" jadi aku gak boleh dong menyia-nyiakan sakit dan perih ini.

temanku, mungkin nasibku gak jauh bedanya ama foto-foto itu. gak perlulah merasa gak enak hati, setidaknya untuk terakhir kalinya sebagai teman gak perlu sungkan atau gak enakan, kamu bisa, boleh, bahkan sah-sah aja, kalo kamu ingin aku menyingkir dari hidupmu.

Hari Film Di Jogja  

Celoteh Herlina

Taman budaya, Jumat 30 Maret 2007. Sehubungan dengan hari Film, diadakanlah pemutaran film-film indie.

film-film indie yang diputar, sebagai berikut :
1. Diantara masa lalu dan masa sekarang (2001)
2. Don't touch (2000)
3. Free as a bird (2006)
4. Harap tenang, ada ujian (2006)
5. Kamar mandi (1999)
6. Ketok (2002)
7. Mass Grave (2002)
8. Pasar (2001)
9. Portrait (2000)
10. Sudah sore, Sebentar Lagi Jam Lima, Cepat Pulang (1999)

dan rencananya di Taman Budaya Societet Militer, akan rutin dilakukan pemutaran film indie, sebulan sekali, Amiiin, semoga terus berjalan dan semakin memacu kretifitas pembuat film Indonesia.
ada yang tahu dimana bisa dapat cd2 film indie Indonesia???, tell mo soon ya!!!

My 24  

Celoteh Herlina


Judul yang sama dengan tulisan di Blog ku yang lain.
tapi isisnya beda deh kayaknya

24 ku belum ada apa-apanya
24 ku masih sama saja seperti 23, 22, 21...
24 yang sama, berarti sebuah kekalahan
sebab hari ini yang tidak lebih baik dari kemarin adalah kekalahan.
parahnya lagi 24 ku dimulai dengan patah hati yang luar biasa mengganasi banyak hariku. hampir dua minggu lebih aku kehilangan kendali atas perasaanku, perasaan yang harusnya sudah lama kueliminasi.
Sungguh sebuah perasaan cengeng yang menjengkelkan. aku malu ketika aku membaca blog teman-temanku, whatsss..., come on aku dimana aja selama ini. they are so alive, ada yang begitu care banget ama society, ada yang memaki-maki ketidakadilan dan penindasan di muka bumi ini, ada yang lagi having trouble dengan kerjaan kehidupan, sementara aku.., ho ho.., a silly girl who can not win just to figth with her own stupid feelings.

aku harus kembali..., bangun lagi.
Cinta seharusnya menentramkan, memberi damai, memberi kehidupan, bukan merampasnya.
Mungkin aku telah salah mengartikannya, menempatkannya.
But Thanks God, Alhamdulillah.., sekarang i'm almost back to normal, aku mulai bisa melihatnya dari sisi yang berbeda. Aku mulai kembali mengenali keikhlasan yang selama ini kuperjuangkan untuk selalu ada dihatiku, yang selalu kukoar-koarkan tiap ada yang bertanya mengenai hubunganku dengan "dia".
Setidaknya kini aku bisa terus merasakan "dia", walau "dia" entah sedang berpijak di atas bumi mana, bernaung di bawah langit mana.
Aku sayang padanya, aku bisa menangis dan tertawa untuknya, bahkan sebelum berpisah aku menjadi perempuan paling bodoh versiku, just for him. dan kini aku -mau- ikhlas untuk menyayanginya, aku mendambakan bahagianya, berdoa untuk itu.
So i hope i can continue my life, at this 24.
24 ini dimulai dengan kehilangan yang cukup senewen. tapi aku belajar banyak hal. aku siap melangkah lagi, semoga aku kuat, dan 24 ini bisa kumanfaatkan seindah, seluarbiasa, sebisa aku mampu.

Untuk yang terjatuh seperti aku, ayo bangun..., kamu nggak sendirian!!!.

seperti yang ditulis Che, waktu 24 nya, aku juga mungkin masih kanak-kanak, yang akan terus bertambah tua. tapi aku akan terus belajar, mencapai sesuatu, berproses, sedih, bahagia, walaupun lelah, tapi aku mau terus berjalan. LIN.., VITA BREVIS!!!

long time not posting!!!!!  

Celoteh Herlina

lama sekali gak pernah lagi posting ke sini, juga kemanapun
sedang menikmati imbas dari kemalasanku

aku sekarang sedang KKN, yang seharusnya di t4ku gak ada
berhubung ada peraturan baru, akhirnya aku mengalami juga
yang namanya KKN

awalnya aku rada sebel,
tapi mungkin Allah mendengar doaku
bukankah aku meminta pada Nya, agar aku bisa bermanfaat bagi para korban gempa
agar aku (yang masih sehat ini, yang tak kurang suatu apa) bisa membantu mereka

semoga lewat moment KKN ini
aku bisa menjadi aku yang lebih baik dari kemarin
aku harus mau dan aku harus bisa

Pantai Depok (Message in a bottle)  

Celoteh Herlina

1 April 2006, Pantai Depok Yogyakarta.

kayaknya udah lama banget gak "rekreasi". Jadi teringat waktu di rumah. Minggu tuh harinya jalan ke Pantai, bergelut dengan asinnya lautan dan hangatnya matahari. meja makan jadi pindah ke bibir pantai yang landai dan berangin, entah berapa banyak pasir yang ikut masuk ke mulut bersama makanan yang disantap. but still it's a happy time.
minggu 1 April 2006, ketika masih sangat banyak masalah di luar sana, ketika masih banyak derita yang belum tuntas. kami (aku, nia, mba happy, koko, mba mela, mba tantin, mita dan sigit) ke pantai Depok. katanya sih makanan lautnya enak dan yang paling penting Murah, he he.
Pantai selalu menghadirkan suatu perasaan romantis yang aneh buat aku. aromanya, anginnya, debur ombak, orang-orang, air asin itu yang terus menggapai-gapai, keluasanNya, ketakutan yang memanggilku, dan segala macam bayangan aneh tentang apa yang bersembunyi di balik deburan ombak itu.
ikan, udang dan cumi, hmmm..., rasanya yummi banget. yup.. kami makan setelah lelah bergumul dengan ombak, setelah berlarian, menghindar,agar tak basah oleh ombak, dan akhirnya berdiri dengan gagahnya menyambut debur ombak yang membasahi, merayapi betis malah menggapai-gapai gulungan celana, yang digulung biar gak basah.
dan akhirnya kesampaian juga keinginan konyolku, aku menulis surat dalam sebuah botol. dan kulepas botol itu dipantai Parangkusumo(sebelahnya pantai Depok)yang sunyi, dan bergumuk pasir.
Gumuk pasir, di Parang kusumo, setahuku satu-satunya di Asia tenggara. bentukannya seperti gurun pasir gitu. aku suka tempat itu. sepi. banyak angin. ketika aku berjalan menuruni bukit gumuk pasir, menuju ke sebuah kubangan yang mirip danau ada banyak capung, warna-warnanya jarang kulihat di tempat lain, trus ada kupu2 yang warnanya coklat itam, trus ada bunga sejenis tumbuhan yang suka terbang dibawa angin
warnanya putih dan berbulu. wah indah sekali, jadi seperti pengembara yang menemukan medan favoritnya, he.
Pantai Depok, bawa ceritaku dalam botol. bawa yang jauh. biar ada yang tahu, suatu waktu nanti. di muka bumi ini, di suatu tempat bernama Pantai Depok, ada desa nelayan, yang indah, damai, meski tiap hari adalah cucuran peluh perjuangan untuk kehidupan, para nelayan itu bergumul dengan ganasnya ombak pantai selatan. banyak wisatawan yang datang, berekreasi, bermain, gembira, ada yang pacaran, putus, jadian, ketemuan, pisah, ada yang sibuk ngurusin anaknya, ada yang foto2, ada yang sibuk milih ikan, ada yang lagi makan, dll. semuanya ada di Pantai Depok. so, semoga kita masih bisa punya pantai ini, atau pantai2 lain seperti ini 10, 20 bahkan ratusan tahun lagi.
pokonya yang belum ke Pantai Depok, ke sana deh. u'll find more then a beach, more then recreation.

"ketakutan memang harus dihadapiiiieeee...."  

Celoteh Herlina

fuhhhh.......

aku mengambil nafas lega, sempat pula senyum-senyum nangkring di wajahku

bahagianya.....

sebagai seorang pengecut, hari ini (setelah setahun berlalu) aku sanggup menghadapi ketakutanku

hanya masalah sepele..., laporan KL ku, he he he
(eldi aku berhasil ngadap pak pri)

awalnya aku teramat takut, entah apa yang akan terjadi
namun beberapa detik sebelum masuk ruangannya
entah kenapa, aku sempat flashback
kenapa aku milih pak pri sebagai dosen pembimbingku
padahal banyak yang justru menghindar,

karena aku menyukainya, aku menyukai pemikirannya
idealis sekali, aku suka....
hal itu terjadi bahkan semenjak pertama kali masuk kampus ini
beliau bilang "jadi mahasiswa jangan sampe melecehkan diri sendiri"
i admire him.
jadilah sebelum masuk ke ruangannya
seakan seluruh pikiranku direfresh lagi
yang akan kuhadapi adalah sesosok yang kukagumi pemikirannya
so whatever will happend down there
adalah interaksi antara aku dan seseorang yang kukagumi kusayangi (he he he)
jadi....
the point is sesuatu yang dilakukan dengan cinta maka akan di tanggapi dengan cinta pula, ceileeeee romantis dah

tapi yang bikin aku semangat juga,
sebelum berangkat, on the radio
penyiarnya mewanti-wanti
dibalik satu kesulitan akan
ada dua kemudahan
(thanks to radio rama)

n benar lah yang terjadi so amazing
Alhamdulillah...
aku jadi bisa lebih banyak berbicara dengan pak pri
dan all end well

aku yang terlalu aku  

Celoteh Herlina

semalam aku nginap di bebeng, sendirian, kedinginan, ketakutan,....

semua bermula dari sekedar lontaran candaan
entah mengapa aku begitu emosional
begitu cepat marah
begitu serius menanggapi candaan kawan-kawanku

bahkan sampai detik kini
ada bagian dari hatiku yang masih saja sombong
masih saja beranggapan bahwa marahku itu benar

Ya Allah, sebab apa aku teramat sombong

dengan tergesa, kupacking semua barang yang perlu
walaupun banyak juga yang tak terbawa
tenda, sb, senter, mukena, setoples kue, slayer, belati, hp, yaasin, diari n pulpen, bedak, sikat dan pasta gigi, parfum spray (bukan buat wewangian, tapi untuk nyemprotin mata orang yang berniat jahat)
semuanya rumpek dalam ranselnya danan yang hingga hari ini belum kukembalikan

dengan begitu emosinya aku melangkah tergesa keluar dari kos
sebulir dua bulir tetesan hangat tumpah dari mataku
padahal aku sudah membiasakan diri untuk tak menangis di tempat umum
tapi sungguh tak tertahankan

suasana sore begitu dingin,
tak seperti biasanya, bebeng begitu sunyi
hanya ada sekumpulan anak muda yang sedang ramai ngobrol
aku terpaku, duduk menyeblahi salah satu tiang pendapa
sambil terus terngiang semua kejadian tadi
kadang masih ingin menangis
tapi aku harus bisa memberi pengertian pada aku yang terlalu aku
bahwa sekali lagi, setelah berulang kali selalu kuingatkan
aku nggak bisa mengharapkan orang lain bersikap sama
seperti sikapku pada mereka
lain orang lain kepala

fajar sunyi itu, perlahan berganti dengan malam yang semakin sunyi
sebelumnya sempat aku ngobrol dengan petugas panjaga kawasan wisata tersebut
bahkan dia menawarkanku untuk tidur di perkampungan
tak tega dia melihat aku yang perempuan, sendirian di tempat sunyi itu

selepas maghrib, ada juga seorang oetugas lain
yang juga menawarkanku untuk nginap saja di rumah salah satu dari para penjual makanan yang ada di jalanan masuk ke bebeng
aku hanya manggut2

aku tetap bersikeras tidur di luar
apapun yang terjadi aku harus belajar
belajar banyak hal
terutama tentang betapa berartinya teman
di kesunyian yang begitu pekat, mungkin aku dapat merenungkan
bahwa teman-teman yang aku miliki, dengan beragam perilaku yang mereka tunjukkan adalah harta-harta terindah, yang dengan berebagai keunikannya turut menempa kita menjadi pribadi yang matang dan kuat untuk menjalani kehidupan
kehidupan sebenarnya, yang lebih nyata dan keras.

seperti kata seorang teman, lebih baik kedatangan seribu musuh daripada kehilangan seorang teman.

walau mungkin suara ini tak tersampaikan
aku sangat ingin minta maaf sama teman-temanku
yang mungkin sakit, ataupun bingung dengan lakuku
maafkan aku....

akhirnya aku balik ke jogja,
mungkin aku perlu sering sendirian
dan merenungi
betapa banyak salah
dan hati yang kusakiti

Pangarip - arip (still miss you)  

Celoteh Herlina

Aku masih mengingat
Indah pagi di tepian Pangarip – arip
Ngerinya jurang tak tampak di sana
Diantara dingin udara
Ada semilir hangat menelusup
Relung hati

Ribuan lampu tawangmangu menyala
Kota di kejauhan
Serasa peradaban begitu berjarak

Lembah jejurangan
Menampang lapang
Hijau, penuh sesak tetumbuhan

Aku dan kamu
Kita begitu kecilnya, kawan

Langkahku, langkahmu
Langkah kita, kawan
Seiring pergeseran waktu
Berpacu menuju puncak

Mentari samar muncul
Memberi bayangan Lawu
Diantara awan
Yang berupa kabut penuh,
Pun yang bergerombol unik

Aku bahagia,
Semua cintaku
Dalam waktu yang bersamaan
Memenuhi relung hatiku
Hingga terengah-engah aku menunjukkan
Bahagiaku

Andai aku sekuat penduduk yang berpapasan dengan kita,
Setiap pagi mereka berjalan
Turun naik
Mencari tumbuhan
Tuk lanjutkan kehidupan
Ketika kita masih setengah terlelap
Langkah kaki mereka
Telah berderap penuh yakin
Bahkan si upik pun
Terjaga di gendongan ayahnya

Dingin sudah tak lagi menelusup
Kita tak lagi melangkah
Tapi pagi di pangarip – arip
Masih selalu segar

Akan selalu segar.

dua pencari kehidupan  

Celoteh Herlina

garang sekali wajahnya,
ketika kukatakan aku gak mau turun di pusat dagadu itu

akhirnya permintaan kami dituruti juga
namun ditambah gerutuan

aku jadi membencinya

namun setelah kupikirkan lagi
oh God kedua tukang becak itu, sedang berjuang
untuk nasibnya
untuk keluarganya di rumah


awalnya,
malam itu saudara sepupuku sedang ke jogja
mengikuti pelatihan bersama seorang temannya
hari sudah larut dan gerimis turun
tapi kami nekad mo jalan ke malioboro

ketika pulang, hujan bertambah deras
akhirnya kami putuskan tuk naik becak
dengan semangatnya para kang becak
menawarkan "mbak..,pusat dagadu, bakpia pathuk, ntar baru diantar ke hotel, cuman 3000"
dengan agak heran,
kami naik juga,tapi mewanti-wanti dulu ama kang becak
langsung ke hotel aja, sudah malam

tentang dia  

Celoteh Herlina

seperti biasa
seperti selalu

he is always fabolous

king of my heart
if i may say so

begitu rindunya
begitu ingin tahu keberadaanya
begitu ingin memandang kedalaman matanya

Tuhan kuatkan aku
untuk tak gegabah lagi

tangis itu............  

Celoteh Herlina

akhirnya, kalo boleh kukatakan,
tangisku itu sebagai sesuatu yang akhirnya...

setelah beberapa hari aku dapat masalah
dan aku gak nangis,
bahkan tidak terlalu merasa sedih
akhirnya tadi di ring road
tumpahlah kristal-kristal bening itu

betapa malunya aku,
didepan polisi yang lagi menulis surat tilang
aku benar tak bisa menahan jatuhnya air mataku
seakan gravitasi telah begitu kuat menarik

tapi setelah itu rasanya plong,
sekana semua luka, semua beban
telah terbasuh
terimakasih Tuhan
pak polisi terima kasih juga
akhirnya aku dibebaskan
tanpa harus bayar
tanpa surat tilang.

Sony Ericsson K508i  

Celoteh Herlina

26 Desember 2005, malam refleksi setahun tsunami
hujan turun tak seberapa merisaukan
suasana cukup mendukung untuk sebuah refleksi

aku, sari, dani dan reta
berempat kami pergi ke sana
tepatnya di monumen 11 maret,
samping benteng vredeburgh
dengan penuh semangat
minjam motor mbak mela dan mbak nana

sari dan dhani ikut,
karena mungkin mereka sebagai bagian dari aceh
merasa punya keterikatan emosi
aku dan reta
seperti biasa,
muatan ketertarikan pada acara berbau budaya dan seni
sangatlah kental dalam motivasi kami
apalgi tergiur dengan tercantumnya
nama emha ainun najib,
sebagai salah satu pengisi acara

ternyata sampai acara selesai
emha tak ada, kecewa sih
tapi lumayan lah
ada beberapa bagian acara
yang lumayan oke dan touching
tapi, jujur nih, secara keseluruhan
acara tersebut gariiiing...,
antara tema dan apa yang terlaksana
banyak gak nyambungnya
kurang greget,
tapi lumayan juga lah usaha
depertemen sosial masyarakatnya
patutlah dihargai
jadi kita dan masyarakat,
juga mungkin bem sendiri
bisa ngeliat kualitas kinerja mereka tuh
kayak apa, bad..., very bad.

dan malam itu, setelah refleksi selesai
terjadilah hal, yang harus terjadi
pertama diawali dengan hilangnya sandalku
yo wis lah, Gosob, halal dah,
dengan girangnya aku nyeker,
mungkin terlalu girang....

dari awal berangkat mbak mela sudah memperingatkanku
kunci dicantolin, soalnya longgar, sering jatuh
dan ketika pulang, terbukti, kunci jatuh
entah kemana, kami sudah bolak-balik mecarinya
dan beberapa usaha lain
akhirnya pulang dengan putus asa

setelah memutuskan untuk memberitahu mbak mela besok pagi
kami masak air, mo bikin teh, plus makan mie goreng yang dikasih
mbak happy (yang baik hati),
sembari menunggu air matang
kupindahkan semua data, pertama dari kamera
kemudian teringat, di hp ada data gamabar bersuara (video)
kucari di tas, kok... hp aku nggak ada
di saku celana,...juga tak ada
di jaket, hah... juga tak ada
Oh God,...hp ku hillllaaannnggg.....!!!!

nomorku dihubungi, ternyata mati
firasatku sudah buruk, yah pasti udah
berpindah ke tangan orang yang jelas2
tak ingin mengembalikan...,
udah la yah aku pasrah, ikhlas

tapi teman2 memaksaku,
setidaknya malam itu juga aku harus ke bem
dan nanyain tuh hp
sampailah aku dan sari di bem,
masih ada seseorang yang belum tidur
dia membenarkan kalau ada hp yang hilang
dan ditemukan, tapi sedang di bawa
pak jajang, besok pagi aku ke bem lagi
tak bertemu juga dengan pak jajang
siang aku bem lagi, tak juga bertemu
tapi berdasarkan informasi anak bem juga
hp yang ditemukan pak jajang adalah nokia
bukan sony ericsson
dan itupun sudah kembali ke pemiliknya

ya, ya, aku paham
memang ksobi, sudah tak lagi
berjodoh dengan ku
selamat tinggal ya
hati-hati dimanapun kau
semoga pemilik baru
sayang dan menghargaimu

buat eldi kalo baca blog ku
sorry ya no ku sementara ini inactivated
dan aku telat ngucapin "met natal", semoga
selalu dalam lindungan Nya, cepat dapat kerja
atau cepat dapat suami kaya (as u wish)
english eldi's version, kayaknya asik tuh
dikembangkan aja di toraja, good luck